Langsung ke konten utama

Postingan

Hukum Alam

Reputasimu kau dapatkan dari hasil rampokan tadi malam di sebuah tempat yang tak pernah kau kunjungi dirimu, mencoba menang namun waktu yang mematahkan selamat, permainan bunuh dirimu sedang menunggu giliran maaf, sebagai orang ketiga aku harus segera menyantap teh yang sedang bersorak ini agar bersatu dalam jiwaku supaya ia tak hanya secangkir teh, sorakkan ini semakin liar kita sedang dipermainan hukum alam Jelita, emas ini hanya memilihku, ia tahu jalan pulang terima saja perunggu yang ingin bersamamu. pahamlah, rasa geramnya dirampas.

Buta

Keluar dari hutan yang menyejukan ini dan mendapati kau yang lesu kehausan di padang pasir itu ku lihat kau menyeret langkah kembali di wilayahku tersadar ketika lambayan tanganmu memohon iba ku hantarkan air yang paling jernih pula segar untuk kau, mendekati perbatasan hutan asri "mari pulang" ucapku kurus tubuhmu menjelaskan tentang sesalmu "hutan yang kita buat sungguh menciptakan kehidupan" ujar kau "iya, aku saksinya. mereka tumbuh tanpa kau" ujarku sekian hari kau menetap kembali diriku tersadar, aku tak mengenalmu kembali.

Lebih dari Sandaran

Kerap kali aku nyaris menyerah, dan kau selalu menahan tubuhku agar tak menyentuh tanah sekarang aku paham, hanya kau yang tak pergi dan sanggup menetap terimakasih, karna selalu menguatkan, selalu menjadi bantal ketika letih dan yang pasti, terimakasih karena tidak pernah pergi dan tak berpaling Terimakasih.

Jl. Brawijaya, Kediri

And when you want something, all the universe conspires in helping you to achieve it. ( Paulo Coelho ) Pare, 2019

Restu Yang Rindu

Tahan sedikit rindu, sayang kan ku hitung malam yang tersisa ku pastikan malam ini hinggap diangka satu selayaknya malam menutup mata hingga terbuka untuk siang tak akan lama, sayang ketidak nyamanan kita akan usai karena pinanganmu yang sempat melarikan diri sedang bersandar direstu dermaga menjemputmu tepat pukul senja esok.

Pesan apa yang ingin kau sampaikan ?

Teruntuk senja, Terimakasih telah mengisi petangku aku tak membencimu, sungguh. Hari ini aku mencoba berdamai denganmu, dengan caraku bersikap seolah pertama kali menjadi temanmu. Nyatanya, ada yang lebih antusias menantimu mengabadikanmu dengan puas hingga malam merenggut kedudukanmu. Sementara aku, hanya menunggu janjimu yang kian menua. Tapi tak apa, mulai hari ini perlahan akan ku hapus dari otakku. Kan kugantikan dengan damaimu menjadi kita seperti pertama bertemu, tak ada janji dan tak ada hutang yang perlu dibalas. Semua tuntas dan impas. Semoga kau senantiasa menghibur dia yang antusias menantimu.