Langsung ke konten utama

Ujar Dia, Pria Anonim




Kala itu,
Senja sangat indah
Pantas saja, kaki tak lelah melangkah
Demi memanjakan sang mata
Lalu apa yang kau dapat?
“Yang berhak sombong hanyalah Tuhan,
kita sebagai hamba punya apa? Yang fakir segalanya…”

Komentar

Postingan populer dari blog ini

November : selalu suka cita

November suka cita Lahir putri pertamaku, penuh haru dan bahagia Malaikat kecilku hadir dengan segala persiapan dan waktu yang tepat. Dear Sheren,  aku tidak akan menuntutmu menjadi manusia yang pintar ataupun anak yang cerdas  Seperti anak orang lainya. Tapi, aku akan menuntutmu menjadi orang yang bijak.  Bijak dalam berfikir Bijak dalam bertindak Bijak dalam segala hal. Karna banyak orang cerdas tapi asal bertindak Banyak orang pintar tapi tak berfikir panjang Untuk itu, jadilah gadis bijak sayang.

Sudoku

Dalam suatu cerita hidup Tuhan tidak memberi tahu siapa saja yang akan kau cintai dimasa datang begitu pula pada teka-teki mereka yang menjadikan kau kecewa dan ironinya Dia tidak memberi tahumu betapa pilunya merelakan yang dicinta.

Terkutuk, Jelita

 Maksudku, semua harus selaras Jika yang rusak harus bersanding dengan yang rusak Jika yang jernih harus bersanding dengan yang jernih. Lalu, apakah benar-benar selaras dihidupku? Untuk ikhlas dan melihatmu terus bahagia Sangat sulit direlung hati Tapi yakinlah, akan hadir secepatnya dan diwaktu yang tepat Namun, akan ku pastikan hidupmu akan melarat dan penuh duka Dikala aku tidak lagi mengutikmu Walaupun kau terus hidup Tapi doa kematianmu akan terus mengalir Semesta pun akan menganggapmu mati walaupun kau berkelana di lereng gunung itu Kau tak akan dianggap dan akan dihapus oleh dunia Jelita, hiduplah dalam kehancuran dan teruslah meringis Disisa hidupmu!